Rabu, 14 Oktober 2009

Dunia Kita Hidup Kita


Oleh Ust. Anis Matta
Bisakah kita membayangkan bagaimana dulu, Adam dan Hawa , menjalani hidup ketika hanya mereka berdua yang menghuni bumi ini? Mungkin mudah membayangkan bagaimana mereka mencari makan untuk menyambung hidup, atau membuat rumah tempat mereka berteduh, atau membuat pakaian untuk menutupi aurat mereka. Tapi coba bayangkan bagaimana pada mulanya mereka menemukan bahasa sebagai alat komunikasi mereka? Atau bagaimana mulanya mereka mengenal satu persatu dari jengkal tanah bumi ini?
Bagaimana mereka mengetahui atau menyepakati bahwa tempat mereka berjalan itu bernama tanah, bahwa benda yang tampak jauh di ketinggian sana, yang berwarna biru adalah langit, bahwa ada makhluk lain di dunia selain mereka yang bernama binatang dan tumbuhan, bahwa ada lampu besar yang membuat hari-hari mereka terbelah dalam terang dan gelap, dan bahwa ketika hari terang itu namanya siang dan ketika hari gelap itu namanya malam? Tapi kenapa kemudian kita, anak cucu Adam dan hawa, bisa punya ribuan kata yang berbeda untuk satu benda? Mengapa kita punya banyak bahasa?

Lalu bagaimana pula cara kakek nenek kita itu mengenal dunia yang mereka huni ini? Berapa luaskah dari bumi ini, yang sekarang dihuni oleh sekita 6 milyar anak cucunya, yang bisa mereka jangkau? Bukankah bumi ini terlalu luas untuk mereka berdua, dan karenanya bisa sangat menyeramkan? Lalu seperti apakah bumi dalam persepdi mereka berdua; datar atau bulat? Indah atau jelek? Menyenangkan atau menyengsarakan?

Begitu Adam dan Hawa turun ke bumi ini, tiba-tiba mereka menemukan dunia yang begitu berbeda dengan surge yang sebelumnya mereka huni. Ini dunia baru. Sepenuhnya dunia baru. Tak ada satu yang ia tahu di sini. Sama sekali tak ada. Jadi apa yang pertama mereka lakukan? BELAJAR!!! Itulah yang mereka lakukan. Bukan makan dan minum. Dan siapa yang mengajarkan mereka? HANYA ALLAH!!! “Dan Allah yang mengajarkan Adam nama-nama itu, seluruhnya”. Seluruhnya; nama benda, perbuatan, fikiran, perasaan, nilai dan seterusnya.

Jadi begitulah hidup pada mulanya dijalani dengan pembelajaran. Dan kemudian, seperti apa cara kita memahami dunia kita, seperti itulah kelak kita menjalani hidup. Coba bayangkanberapa ribu tahun yang diperlukan manusia untuk sampai pada pengetahuan bahwa bumi itu bulat dan bukan datar? Dan apa yang kemudian berubah dalam hidup manusia begitu mereka sampai pada pengetahuan itu? Berapa ribu tahun yang diperlukan oleh manusia untuk sampai pada pengetahuan bahwa minyak adalah sumber energy? Dan apa kemudian berubah dalam hidup manusia setelah pengetahuan itu?
Dan inilah kaidahnya : Wajah dunia kita berubah setiap kali kita menemukan satu pengetahuan baru, hidup kita berubah setiap pengetahuan kita bertambah.

Taken From : Majalah Tarbawi, Ed. 213 Th. 11 Dzulqa’dah 1430, 22 Oktober 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar